1200 Responden dari 24 Sekolah di Denpasar, 43,86% Lakukan Seks Tanpa Kondom, 10,28% Pernah Aborsi

2 weeks ago 0 Comments 306 views

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kita Sayang Remaja (KISARA) sebuah program remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali pada tahun 2016 ini, memilih 1200 responden siswa-siswi SMP hingga SMA di 24 sekolah di Denpasar.

Dalam survey tersebut, menggambarkan sikap remaja di Denpasar dalam memandang perilaku seksual.

Dan hasil yang didapati sangat mengejutkan. Dari 1200 responden siswa-siswi SMP hingga SMA di 24 sekolah di Denpasar, sebanyak 16,8 persen responden beranggapan kegiatan seks vaginal (berhubungan intim) dapat dilakukan sebelum menikah.

Lalu, sebanyak 18,7 persen responden mengatakan petting dan oral seks dapat dilakukan.

Sementara, 48,9 persen responden menganggap berciuman dan berpelukan adalah hal yang lumrah dilakukan sebelum menikah.

Yang lebih parah, dari hasil survey pada responden yang aktif melakukan hubungan intim mengaku tidak pernah menggunakan kondom mencapai angka 43,86 persen.

Sementara, 36,84 persen kadang-kadang memakai dan 19,30 persen responden selalu menggunakan kondom.

Itulah sebabnya angka Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) di Bali cukup tinggi.

Diketahui, sebanyak 36,92 persen atau sebanyak 443 dari 880 responden mengalami KTD.

Nah, 10,28 persen di antaranya pernah melakukan aborsi.

“Secara detail, 33 persen pakai jamu/obat, 15 persen melalui tenaga medis dan 1 persen memakai jasa dukun,” papar wanita yang juga pengerak Youth Center of IPPA Bali ini.

Hal ini tentu, kata Wulan menjadi hal yang cukup memprihatinkan lantaran dari sebanyak 13.319 kasus HIV/AIDS pada tahun 2015, sebanyak 264 diantaranya diderita oleh remaja berusia 15 hingga 19 tahun.

Terakhir, data penderita kasus HIV/AIDS yang dihimpun Dinas Kesehatan Provinsi Bali di tahun 2018 bertambah hingga mencapai 19.683 kasus.

Prihatin akan hal itu, Wulan berharap adanya atensi dan kerjasama kolaborasi antar lintas stakeholder untuk mencegah hal ini.

Hal-hal yang dipandang perlu segera dilakukan mulai pemberian pendidikan kespro da seksual yang komprehensif kepada siswa sekolah baik melalui integrasi kurikulum maupun ekstrakulikuler.

“Pendidikan kespro seksual juga perlu melibatkan keluarga hingga ke ranah kurikulum pendidikan. Masalah kespro bukan hanya masalah dinas kesehatan atau LSM saja, tetapi juga masalah semua sektoral meliputi Dinas Pendidikan yang menaungi remaja, DP3AP2KB yang melindungi anak,” tegasnya.

“Sebenarnya aku lebih terkejut karena aku kira remaja gak bakal ada yang mau ngaku kalau sudah berhubungan seksual.”

“Tapi ternyata mereka jujur, aku salut! Ini bisa ngebantu kita mengetahui bagaimana gambaran sikap remaja mengenai perilaku seks,” akunya kepada Tribun-Bali.com dikonfirmasi belum lama ini. (*)

Jangan iri dengan keberhasilah orang lain, karena kita tidak tau seberapa besar pengorbanan mereka untuk bisa menggapai keberhasilannya

You may also like
Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Aplikasi UP Station
telah tersedia sekarang
Buka Artikel
Download Aplikasi